• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
Jumat, 11 September 2026
Panji Rakyat
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Politik
  • Otomotif
  • Tekno
  • Lifestyle
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Politik
  • Otomotif
  • Tekno
  • Lifestyle
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Panji Rakyat
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
ADVERTISEMENT
Home Dunia

Ngeri! Kasus ‘Peternakan Manusia’ Jual Sel Telur Ratusan Wanita

Penulis Raya
12 Februari 2025
A A
peternakan manusia

Ilustrasi. (Freepik)

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

JAKARTA, PANJIRAKYAT: Ratusan wanita menjadi korban jaringan perdagangan manusia yang memperlakukan mereka layaknya ‘peternakan manusia’ terungkap di Georgia, Eropa Timur. Dikabarkan, para korban ditahan, disuntik hormon secara paksa, dan diambil sel telurnya untuk dijual di pasar gelap.

BACAJUGA

Teroris Bom Bali Hambali Tak Bisa Masuk Indonesia, Yusril Beberkan Alasannya

TNI Siap Turun Lakukan Misi Kemanusiaan di Myanmar

Terungkapnya kasus ini bermula dari pelarian dramatis tiga wanita Thailand pada 30 Januari 2025. Ketiganya berhasil melarikan diri dan segera mendapatkan perlindungan dari Yayasan Pavena, sebuah organisasi yang menangani kasus eksploitasi perempuan dan anak-anak. Praktik keji ini akhirnya terungkap dengan bantuan Interpol dan otoritas Thailand.

Korban Dijebak dengan Iming-Iming Pekerjaan

Modus yang digunakan para pelaku sangat licik. Para korban diiming-imingi pekerjaan sebagai ibu pengganti dengan bayaran fantastis, berkisar antara 400.000 hingga 600.000 baht atau setara dengan Rp192 juta hingga Rp288 juta. Tawaran ini disebarkan melalui platform Facebook, menargetkan wanita yang membutuhkan pekerjaan dengan janji kesejahteraan.

Namun, kenyataan yang mereka hadapi sungguh berbeda. Setibanya di Georgia, mereka tidak hanya kehilangan kebebasan, tetapi juga hak atas tubuh mereka sendiri. Mereka dikurung di sebuah rumah bersama lebih dari 100 wanita lain. Tanpa kontrak yang sah dan tanpa kehadiran pasangan yang membutuhkan jasa ibu pengganti, mereka justru diperlakukan sebagai objek eksploitasi medis.

ADVERTISEMENT

Dalam konferensi pers yang digelar Yayasan Pavena melalui Facebook, para korban yang mengenakan masker dan pakaian pelindung mengisahkan penderitaan mereka. “Kami dibawa ke sebuah rumah yang dihuni sekitar 60 hingga 70 wanita Thailand. Tidak ada kontrak resmi, tidak ada orang tua yang mencari jasa ibu pengganti. Kami hanya disuntik hormon, dibius, dan setiap bulan sel telur kami diambil menggunakan mesin,” ungkap salah satu korban.

Lebih buruk lagi, banyak dari mereka tidak menerima bayaran sepeser pun. Bahkan, mereka yang ingin keluar harus membayar uang tebusan agar bisa bebas.

Peternakan Manusia, Sel Telur untuk Pasar Gelap

Praktik keji ini tak sekadar menahan dan menyiksa korban, tetapi juga mengeksploitasi tubuh mereka demi keuntungan besar. Para wanita ini disuntik hormon secara berkala untuk merangsang produksi sel telur mereka. Setiap bulan, mereka dibius dan sel telurnya diambil untuk kemudian dijual ke pasar gelap.

Sel telur yang diperoleh diduga diperjualbelikan ke berbagai negara dan digunakan dalam program fertilisasi in-vitro (IVF). Permintaan tinggi terhadap sel telur di industri medis membuat bisnis ilegal ini terus berkembang. Hingga kini, belum diketahui berapa banyak korban yang masih ditahan di ‘peternakan manusia’ tersebut.

Perdagangan Manusia: Kejahatan yang Kian Mengkhawatirkan

Yayasan Pavena mencatat bahwa sepanjang tahun 2024, sedikitnya 257 wanita Thailand menjadi korban perdagangan manusia. Dari jumlah itu, 204 di antaranya dibawa ke luar negeri, sementara 53 ditemukan masih berada di dalam negeri. Yayasan ini telah berhasil menyelamatkan 152 korban.

Angka ini hanyalah bagian kecil dari gambaran besar kejahatan perdagangan manusia yang terus meningkat di berbagai negara. Menurut laporan Disrupt Human Trafficking, sekitar 25 juta orang dieksploitasi oleh jaringan perdagangan manusia setiap tahunnya. Bisnis gelap ini diperkirakan menghasilkan keuntungan hingga 150 miliar USD per tahun dan terus berkembang.

Indonesia pun tak luput dari ancaman ini. Laporan pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2023, terdapat 1.061 kasus perdagangan orang yang sedang diselidiki. Dari jumlah tersebut, 370 kasus berkaitan dengan perdagangan seks, 603 kasus perdagangan tenaga kerja, dan 88 kasus lainnya terkait eksploitasi manusia dalam bentuk lain. Angka ini melonjak drastis dibandingkan dengan hanya 133 kasus yang diselidiki pada tahun 2022, sebagaimana dilaporkan oleh Kedutaan Besar dan Konsulat Amerika Serikat di Indonesia.

BACA JUGA: Jenazah Korban Penembakan Aparat Malaysia Dipulangkan Hari Ini, Usai Diidentifikasi

Upaya Global untuk Memerangi Perdagangan Manusia

Kasus di Georgia ini menjadi pengingat bahwa perdagangan manusia masih menjadi ancaman global yang nyata. Kolaborasi antara otoritas internasional, organisasi kemanusiaan, dan kepedulian masyarakat sangat berperan untuk menekan angka eksploitasi manusia.

Interpol dan berbagai lembaga penegak hukum internasional terus berupaya membongkar jaringan perdagangan manusia yang beroperasi lintas negara. Sementara itu, kesadaran masyarakat terhadap modus-modus perekrutan yang mencurigakan juga menjadi langkah preventif penting agar tidak semakin banyak korban yang terjerumus dalam perangkap ini.

Tragedi ini seharusnya menjadi alarm bagi dunia untuk lebih serius dalam memberantas perdagangan manusia dan memastikan bahwa tidak ada lagi wanita yang dijadikan objek eksploitasi dalam bisnis kejam ini.

 

(Raya)

Tag: Georgiaperdagangan manusiaperdagangan wanitaPeternakan ManusiathailandTPPO

Artikel Terkait

objek budaya indonesia
Dunia

Menlu Serah-Terima Objek Budaya Indonesia dari Tangan AS

14 Desember 2024
elon musk alien
Dunia

Janji Elon Musk ketika Bertemu ‘Alien’

15 Oktober 2024
Prabowo anggaran
Dunia

Memberantas Kemiskinan, Prabowo Harus Contoh Narendra Modi

26 Januari 2025
china chip
Dunia

China akan Habiskan Uang Rp 1.500 Triliun untuk Chip, Amerika Kalah!

28 September 2024
perintah eksekutif
Dunia

11 Perintah Eksekutif Donald Trump Usai Resmi Jadi Presiden AS

22 Januari 2025
gunung everest
Dunia

Penemuan Sepatu Bot di Gunung Everest, Misteri 100 Tahun Bangkit Lagi!

13 Oktober 2024
Artikel Selanjutnya
Insentif Mobil Hybrid

Pemerintah Resmikan Insentif Mobil Hybrid, Ini Syarat dan Besarannya!

Artikel Terpopuler

  • Chatgpt meta ai

    Sebelum Pakai, Kenali Perbedaaan ChatGPT dan META AI!

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Megawati Ikut Colek Kasus Kematian Prada Lucky: Sakit Sekali!

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Universitas Jenderal Achmad Yani Tawarkan Solusi Bagi Calon Mahasiswa yang Gagal Masuk PTN

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Koster Tolak Ekspansi GRIB Hercules di Bali!

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Prabowo Bertemu Megawati, Sekedar Pribadi Atau Politik?

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0

Berita Terbaru

Momentum HUT PSI ke-11, Kaesang Tekankan Pembuktian ke Kader untuk Jadi Partai Besar

Momentum HUT PSI ke-11, Kaesang Tekankan Pembuktian ke Kader untuk Jadi Partai Besar

17 November 2025
Lelang IKN

Otorita IKN Buka Lelang Hunian ASN

17 November 2025
prabowo raja yordania

Ketika Prabowo Ditabur Pujian oleh Raja Yordania

15 November 2025
cita cita gus dur

PKB Sebut Cita-cita Besar Gus Dur Belum Terwujud untuk Bangsa

13 November 2025

Panji Rakyat merupakan portal berita yang hadir sebagai media online dan menjadi sumber referensi informasi terpercaya yang aktual dan berimbang.

Part of:

Informasi Lainnya

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Kontak

  • kontak@panjirakyat.com
© 2022 Panji Rakyat
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Dunia
  • Nasional
  • Politik
  • Otomotif
  • Tekno
  • Lifestyle

© 2022 Panji Rakyat